Pekalongan – Menkes Budi Respons Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin memberikan respons positif terhadap rencana pemerintah yang akan mulai menerapkan cukai untuk minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK) pada 2026.
Kebijakan ini telah masuk dalam catatan RAPBN 2026, sebagai bagian dari ekstensifikasi barang kena cukai.
Dalam konsultasi di DPR, pemerintah menekankan bahwa penerapan cukai ini tidak hanya soal fiskal
Menurut rencana, cukai MBDK akan mulai diberlakukan efektif per tahun 2026. Namun, besaran tarif cukai masih dalam pembahasan antara pemerintah dan DPR.

Baca Juga : Balon Udara Liar Nyangkut di Jaringan Listrik Bikin Mati Lampu di Pekalongan
Pemerintah menegaskan bahwa skema tarif akan mempertimbangkan aspek kesehatan, ekonomi, dan kesiapan industri dalam pelaksanaan.
Sebelumnya, Kemenkes juga menyuarakan pentingnya cukai ini sebagai langkah strategis untuk menekan prevalensi penyakit tidak menular—mulai dari diabetes hingga obesitas.
Studi dari CISDI menunjukkan bahwa cukai sebesar 20 % berpotensi menurunkan konsumsi minuman berpemanis hingga 17,5 %, mencegah jutaan kasus diabetes tipe 2, serta menghemat biaya kesehatan hingga Rp 40,6 triliun—dalam satu dekade ke depan.
Dalam hal ini, Menkes Budi menyambut baik langkah strategis awal tersebut sebagai langkah maju dalam melindungi kesehatan publik dan memastikan masa depan generasi lebih sehat.
Implementasi cukai ini juga akan mendorong produsen reformulasi produk dengan kandungan gula lebih rendah—sejalan dengan rekomendasi WHO.
Dengan demikian, cukai menjadi instrumen ganda: pengendalian konsumsi dan sumber pembiayaan program preventif.
Studi UNICEF dan BPKN menunjukkan bahwa kebijakan ini efektif menurunkan obesitas dan diabetes—serta memberi dampak positif khususnya pada anak-anak.
Meskipun begitu, keberhasilan penerapan cukai tetap bergantung pada cakupan produk dan tarif yang cukup tinggi untuk mengubah perilaku konsumen.
Kemenkes tetap mendukung kebijakan ini, terutama karena urgensi menekan pandemi penyakit tidak menular yang menyedot anggaran kesehatan.
Namun, pihak industri juga menyuarakan kekhawatiran: Asosiasi Industri Minuman Ringan (ASRIM) menilai sektor belum siap dan bisa terdampak ekonomi serius.





